Kamis, 28 April 2011

Pengabdian dan Pengorbanan

                Wujud tanggung jawab juga berupa pengabdian dan pengorbanan. Pengabdian dan pengorbanan adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu sendiri.
Pengabdian
                Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, hormat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas.
                Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa tanggung jawab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencukupi kebutuhan, hal itu berarti mengabdi kepada keluarga.
                Lain halnya jika kita membantu teman dalam kesulitan, mungkin sampai berhari – hari itu bukan pengabdian, tetapi hanya bantuan saja.
                Berikut ini diberikan gambaran bagaimana orang tua mengabdi kepada putra – putrinya demi kebahagiaan keluarga mereka.
Sepasang suami istri guru sekolah dasar disebuah desa. Anaknya cukup banyak, yaitu 6 orang. Untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarga besar tersebut, si ibu tetap bekerja sebagai guru, karena tahu bahwa gaji suaminya juga kecil. Si ibu di rumah tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga, karena memang tidak mampu membayar pembantu. Untuk urusan pendidikan di sekolah si bapak yang bertanggung jawab, sedangkan si ibu untuk urusan pendidikan yang bersangkutan dengan rumah tangga. Si bapak membimbing putra – putrinya dalam belajar di rumah malam hari, sedangkan siang hari saling dengan praktek biologi seperti menanam sayur, memelihara ternak yang hasilnya langsung dapat dimanfaatkan oleh keluarga. Si ibbu mengajar putra – putrinya memasak , mencuci piring, mencuci pakaian, membersihkan rumah. Anak – anaknya yang mulai besar menjadi semacam asistennya. Setelah anak – anaknya yang mulai sekolah dikota, mereka itu hanya disewakan kamar yang murah dengan harus memasak dan mencuci sendiri yang sudah terlatih baik waktu di desa. Demikian maka kamar itu makin banyak penghuninya oleh adik – adiknya yang juga menyusul kakak untuk belajar di kota. Sekali seminggu seorang anak pulang untuk mengambil uang dan perbekalan di desa dan sekali sebulan ayah – ibu datang ke kota untuk tetap mengakrabkan hubungan mereka sebagai keluarga, sekaligus mengontrol apakah anak – anaknya menjalankan kewajibannya secara benar. Hal demikian juga dilakukan oleh keluarga itu waktu anak terbesar harus masuk ke perguruan tinggi. Pada waktu si sulung sudah tamat dan bekerja, ia pindah ke tempat kerjanya dan berfungsi sebagai donatur terhadap adik – adiknya. Alhasil seluruh putra putri keluarga guru tersebut dapat menamatkan sekolahnya dan menjadi sarjana. Sementara itu sibapak dan ibu bertahan bekerja sebagai guru di desa demi mengabdi kepada putra – putrinya agar dapat menjadi manusia yang hidupnya tidak sesulit dirinya. Waktu mereka sudah pensiun, mereka merasakan bahwa pengabdiannya pada putra – putrinya juga sudah cukup, mereka merasa puas karena mampu membekali putra – putrinya dengan ilmu yang dijadikan kail dalam menempuh kehidupan ini. Orang tua itu tidak membekali dengan ikan, karena akan cepat habis tanpa bekas.
                Manusia tidak ada dengan sendirinya, tetapi merupakan makhluk ciptaan tuhan. Sebagai ciptaan tuhan manusia wajin mengabdi kepada tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada tuhan, dan itu merupkan perwujudan tanggung jawabya kepada tuhan yang maha esa.
                Pengabdian kepada agama atau kepada tuhan terasa menonjolnya seperti yang dilakukan oleh para biarawan dan biarawati. Pada umumnya mereka itu adalah orang – orang yang terjun di ladang tuhan karena kesadaran moralnya, karena panggilan tuhan. Mereka meninggalkan keluarganya dan tidak akan berkeluarga. Sehingga hampir seluruh waktu , pikiran, tenaga maupun kegiatannya hanya tercurah untuk memuliakan tuhan. Dalam agama yang tidak membedakan manusia atas dasar ras ataupun bangsa itu, para biarawan atau biarawati ditempatkan di daerah – daerah yang jauh terpencil. Semuanya dilakukan dengan semboyan tugas suci. Selain pada gereja katolik, pada agama budha jg dikenal biarawati atau biarawan dengan sebutan biksu dan bhiksuni dengan cara kehidupan yang tidak jauh berbeda.
                Pengabdian kepada negara dan bangsa yang juga menyolok antara lain dilakukan oleh pegawai negeri yang bertugas menjga mercu cuar di pulau yang terpencil. Mereka bersama keluarganya hidup terpencil dari masyarakat ramai, sementara itu setiap hari tiupan angin kencang dari laut tidak pernah berhanti, apalagi bila terjadi badai. Mereka bersembunyi diri dalam mengabdikan diri demi keselamatan kapal yang lalu lalang. Kesenangan yang dapat dirasakan oleh pegawai negeri di kota tidak dapat dirasakan , mungkin sekali – sekali bila mereka bayangkan secara terang di alam yang demikian sepi. Anak – anak mereka sulit berkembang sebagai makhluk sosial, dan terbatas untuk dapat mengembangkan diri akibat terpencilnya tempat tinggalnya. Dengan membandingkan mereka dan kehidupan kawan – kawannya dikota atau ditempat yang lebih enak terasa arti pengorbanan mereka demi keselamatan manusia lain, bangsa dan negara sendiri. Berapa banyakkah orang yang mau dan mampu menghayati pengorbanan mereka itu?
Pengorbanan
                Pengorbanan berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan. Sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak mengandung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata – mata.
                Pengorbanan dalam arti pemberian sebagai tanda kebaktian tanpa pamrih dapat dirasakan bila kita membaca atau mendengarkan kotbah agama. Dari kisah para tokoh agama atau nabi. Manusia memperoleh tauladan, bagaimana semestinya wajib berkorban. Berikut ini diberikan dua buah gambaran.
Pangeran sidharta gautama dari kapilawastu diharapkan oleh ayahnya untuk kemudian menggantikan kedudukannya sebagai raja. Tetapi, pangeran tersebut lebih tertarik pada kehidupan pertapa untuk memperoleh penerangan agung bagaimana caranya manusia dapat membebaskan dirinya dari sengsara melalui pelepasan dan mencapai kehidupan abadi di sorga. Ia mengorbankan kehidupannya yang mewah di duniawi dalam istana, ia mengorbankan kepentingan keluarganya, karena memandang bahwa kepentingan umat manusia yang bodoh perlu didahulukan. Usahanya berhasil memperoleh penerangan agung di tempat pertapaan bodh gaya, uang kemudian disiarkan kepada umat manusia. Ia rela mengorbankan duniawinya, keluarganya, demi kepentingan umat manusia yang derajatnya lebih tinggi. Ia menjadi seorang budha yang akhirnya tidak dilahirkan kembali dan menjadi pendiri agama budha.
Nabi ibrahim mendapat parintah dari Allah untuk mengorbankan putra tunggalnya ismail. Walaupun ia sangat sayang pada putranya tersebut, perintah Allah untuk mengorbankan tetap dipatuhinya. Allah menguji kesetiaan dan besarnya pengorbanan nabi ibrahim. Nabi ibrahim tidak sampai jati melihat pisaunya dipotongkan ke leher putranya, tetapi ia sudah bertekad setia menjalankan perintahNya. Kemudian terbukti, bahwa putra yang mau dikorbankan kepada Allah sudah berganti dengan biri – biri. Pengorbanan yang dilakukan oleh nabi ibrahim kepada Allah lebih tinggi kadarnya dari pada pengorbanan oleh nabi ibrahim sekarang yang ditiru oleh umat islam yang menjalankan ibadah haji di tanah suci maupun umat islam di wilayah lain dengan mengorbankan ternak untuk keperluan fakir miskin pada hari raya idul kurban.
                Perbedaan antara pengertian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesama kawan, sulit dikatakan pengabdian, karena kata pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya. Tetapi untuk kata pengorbanan dapat juga diterapkan kepada sesama teman.
                Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran, perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan.
                Pengabdian lebih banyak menunjuk kepada perbuatan sedangkan pengorbanan lebih banyak menunjuk kepada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya, waktu. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian.
                Kesediaan seorang guru sekolah dasar ditempatkan di pelosok terpencil daerah transmigrasi, adalah pengabdian yang juga menuntut pengorbanan. Dikatakan pengabdian karena ia mengajar di situ tanpa menerima gaji dari pemerintah, tanpa harus diurus oleh pihak berwenang usul pengangkatannya, ia hanya bertanggung jawab untuk kemajuan dan kecerdasan masyarakat / bangsanya. Ia hanya menerima penghargaan dan belas kasihan dari masyarakat setempat. Pengorbanan yang ia berikan berupa tenaga, pikiran, waktu untuk kepentingan anak didiknya.
                Dalam novel berjudul “siti nurbaya” karya marah rusli, betapa besar pengorbanan gadis siti nurbaya sebagai pengabdiannya kepada orant tua. Orang tua siti nurbaya tidak mampu membayar hutang kepada datuk maringgi. Sebagai tebusannya, siti nurbaya dibujuk agar bersedia kawin dengan datuk maringgi, si tua bangka, walaupun sebenarnya ia sudah mengikat janji dengan pemuda pujaannya bernama syamsul bahri. Demi pengabdian kepada bapaknya, siti nurbaya bersedia memutuskan hubungan dengan syamsul bahri dan mau dikawinkan dengan datuk maringgi, walaupun dengan perasaan yang sangat berat.

Manusia dan Tanggung Jawab

PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB
                Tanggung jawab menurut kamus bahasa indonesia adalah , keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus umum bahasa indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.
                Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tinggkah laku atau perbuatannya yang disengaja ataupun tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
                Seorang mahasiswa mempunyai kewajiban belajar. Bila belajar, maka hal itu berarti ia telah memenuhi kewajibannya. Berarti pula ia telah bertanggung jawab atas kewajibannya. Sudah tentu bagaimana kegiatan belajar si mahasiswa, itulah kadar pertanggung jawabannya. Bila pada ujian ia mendapat nilai A, B, atau C itulah kadar pertanggung jawabannya.
                Bila si mahasiswa malas belajar, dan ia sadar akan hal itu. Tetapi ia tetap tidak mau belajar dengan alasan capek, segan dan lain – lain. Padahal ia menghadapi ujian. Ini berarti bahwa si mahasiswa tidak memenuhi kewajibannya, berarti pula ia tidak bertanggung jawab.
                Berikut ini diberikan penggambaran bagaimana suatu tanggung jawab diberikan oleh dua orang yang kualitas tanggung jawabnya berbeda.
Fahrie adalah seorang pegawai yang tekun dalam melaksanakan tugasnya. Ia datang sebelum waktu kerja dimulai. Tanpa banyak bicara dikerjakan tugasnya. Setelah selesai tugas yang dikerjakan, ia memberikan hasil pekerjaannya kepada atasannya sebagai pertanggung jawabannya. Iapun tidak banyak hilir mudik dikantornya untuk persoalan kepentingan sendiri, seperti buang air, mencari makanan atau minuman. Iapun pulang pada waktu jam kantornya usai. Bila ada pertannyaan dari atasannya tentang pekerjaan yang dilakukan, ia pun memberikan jawaban secara baik dan pasti. Ia dapat memberikan pertanggungjawaban atas tugas – tugas yang dibeikan kepadanya, sehingga konduitenya baik, naik pangkat pada waktunya, dan memperoleh penghargaan khusus waktu tertentu.
Berbeda dengan Paring yang datangnya terlambat dan pulangnya sering lebih cepet. Sementara waktu kerja ada saja kepentingan pribadinya yang lebih dulu dikerjakan dari pada kepentingan kantor, sehingga pekerjaan yang diserahkan kepadanya sering tidak selesai pada waktunya, itu pun masih banyak kekurangan atau kesalahan yang terdapat didalamnya. Bila ia ditanya oleh atasanya, selalu ada saja yang dijawabnya. Yang rumahnya jauh, istri atau anaknya sakit, ada urusan keluarga, ada famili yang meninggal. Karena itu kenaikan pangkat dan gajinya sering ditunda, dan ada gejala ia akan dipindahkan ke tempat lain yang sifatnya hukuman. Paring bukan iarang yang bisa dan mau bertanggung jawab, melainkan ia hanya bisa tanggung menjawab saja.
                Seseorang mau bertanggung jawab karena ada kesadaran atau pengertian atas segala perbuatan dan akibatnya dan atas kepentingan pihak lain. Timbulnya tanggung jawab itu karena manusia itu hidup bermasyarakat dan hidup dalam lingkungan alam. Manusia tidak boleh berbuat semaunya terhadap manusia lain dan terhadap alam lingkungannya. Manusia menciptakan keseimbangan, keserasian, keselarasan antara sesama manusia dan antar manusia dan lingkungan.
                Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi begian kehidupan manusia, bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksakan tanggung jawab itu. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dai sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain. Dari sis si pembuat ia harus menyadari akibat perbuatannya itu , dengan demikian ia sendiri pula yang harus memulihkan kekeadaan normal. Dari sisi pihak lain, apabila si pembuat tidak mau bertanggung jawab, pihak lain yang akan memulihkan baik dengan cara individual maupun dengan cara kemasyarakatan.
                Apabila di kaji, tanggung jawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus dipikul atau dipenuhi sebagai akibat dari perbuatan pihak yang berbuat, atau sebagai akibat dari perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian, pengorbanan pada pihak lain. Kewajiban atau beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak yang berbuat sendiri, atau pihak lain. Dengan keseimbangan, keserasian, keselarasan antara sesama manusia dan lingkungan, antara manusia dan Tuhan selalu dipelihara dengan baik.
                Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab. Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau bruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pangabdian atau pengorbanannya. Intuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan takwa kepada tuhan Yang Maha Esa.
MACAM – MACAM TANGGUNG JAWAB
                Manusia itu memenuhi keperluannya sendiri atau untuk keperluan pihak lain. Untuk itu ia menghadapi manusia lain dalam masyarakat atau menghadapi lingkingan alam.
Dalam usahanya itu manusia juga menyadari bahwa ada kekuatan lain yang ikut menentukan yaitu kekuasaan tuhan. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya. Atas dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu :
(a) Tanggung jawab terhadap diri sendiri
                Tanggung jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran tiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah – masalah kemanusiaan mengenai dirinya sendiri menurut sifat dasarnya manusia adalah makhluk bermoral, tetapijuga seorang pribadi. Karena merupakan seorang pribadi maka manusia mempunyai pendapat sendiri, perasaan sendiri angan – angan sendiri. Sebagai perwujudan dari pendapat, perasaan dan angan – angan itu manusia berbuat dan bertindak.dalam hal ini manusia tidak luput dari keslahan, kekeliruan , baik yang disengaja ataupun yang tidak.
Contoh : rudi membaca sambil berjalan. Meskipun sebentar – bentar ia melihat jalan, tetap juga ia lengah, dan terperosok ke sebuah lobang. Kakinya terkilir. Ia menyesali dirinya esndiri akan kejadian itu. Ia harus beristirahat dirumah beberapa hari. Konsekuensinya tinggal dirumah beberapa hari merupakan tanggung jawab sendiri akan kelengahannya.
(b) Tanggung jawab terhadap keluarga
                Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami – istri, ayah – ibu dan anak – anak, dan juga orang lain ang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.
Contoh : seorang ibu telah dikaruniai tiga anak, kemudian oleh suatu sebab suaminya meninggal dunia, karena ia tidak mempunyai pekerjaan/tidak bekerja pada waktu suaminya masih hidup maka demi rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga ia melacurkan diri.
ditinjau dari segi moral hal ini tidak bisa diterima karena melacurkan diri termasuk tindakan di kutuk, tetapi dari segi tanggung jawab ia termasuk orang yang terpuji, karena demi rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga ia rela berkorban menjadi manusia yang hina dan dikutuk.
(c)  Tangggung jawab terhadap masyarakat
                Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk sosial. Karena membutuhkan manusia lain maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain terxebut. Sehingga dengan demikian manusia di sini merupakan anggita masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat yang lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat tersebut. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.
Contoh : handoko terlalu congkak dan sombong. Ia mengejek dan menghina pakaian pengantin adat minangkabau. Ia tidak memakai pakaian itu, nahkan penutup kepala yang dikeramatkan pun semua ditolak. Tetapi setelah ada ancaman dari pihak pengiring, terpaksa handoko mau memakainya juga. Di dalam peralatan itu hampir – hampir pernikahan dibatalkan , karena timbul perselisihan antara pihak kaum perempuan dengan pihak kamu laki – laki. Pankalnya dari handoko juga. Ia berkata pakaian mempelai yang masih sekarang dilazimkan di negerinya, yaitu pakaian secara zaman dahulu disebutkan cara anak komedi istambul. Jika ia dipaksa memakai secara itu, sukalah urung sahaja, demikian katanya dengan pendek. Setelah timbul pertengaran di dalam keluarga pihaknya sendiri akhirnya diterimalah, bahwa ia memakai smoking, yaitu jas hitam, selana hitam, dengan rompi dan berdasi putih. Tetapi waktu hendak menutup kepalanya, sudah berselisih pula. Dengan kekerasan ia menolak pakaia dester suluk, yaitu pakaian orang minangkabau. Bertangisan sekalipun perempuan meminta supaya ia jangan menolak tanda keminangkabauan yang satu, yaitu selama beralat saja jika peralatan sudah selesai, bolehlah ia nanti memakai sekehendak hatinya pula. Handoko tetap menolak kehendak orang tua, ia tidak hendak menutup kepala, karena lebih gila pula dari anak komidi, ila memakai dester salukdengan baju smoking dan dasi. Setelah ibuna sendiri hilang sabarnya dan memukul – mukul dada di muka anak yang “terpelajar” itu, barulah handoko menurut kehendak orang banyak , sambil mengeluh dan teringat akan badannya yang sudah “tergadai”. Untunglah ia menurunkan hal penutup kepala itu, karena sekalian pengantar dan pasumandan sudah berkata bahwa mereka tak sudi mengiringkan “mempelai didong”. Akhrinya handoko tunduk pula dengan norma – norma yang berlaku dalam masyarakat, meskipun harus bersitegang dahulu. Sebagai pertanggung jawaban kecingkakan dan kesombongannya itu, handoko harus menerima rasa antipai dari masyarakat minangkabau yang sangat ketat terhadap adat itu.
(d) Tanggung jawab kepada bangsa
                Suatu kenyataan lagi, bahwa tiap manusia , tiap individu adalah warga negara suatu negara. Dalam berpikirm berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terkait oleh norma – norma atau ukuran – ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada negara.
Contoh :
 1) dalam novel jalan tak ada ujung karya muchtar lubis. Guru isa yang terkenal sebagai guru yang baik , terpaksa mencuri barang – barang milik seklah demi rumah tangganya. Perbuatan guru isa ini harus pula dipertanggung jawabkan kepada pemerintah kalau perbuatan itu diketahui ia harus berurusan dengan pihak kepolisian dan pengadilan.
2) kumbakarna menolak perintah kakaknya, juga rajanya itu rahwana untuk berperang melawan rama, karena kakaknya berbuat keburukan. Bukan main rahwana. Ia membangkit – bangkitkan hutang budi kumbakarna terhadap kerajaan alengka. Kumbakarna menyadari kedudukannya sebagai panglima perang, karena itu berangkat juga ia ke medan perang menghadapi rama, akan tetapi ia maju ke medan perang bukan karena membela kakaknya, melainkan karena rasa tanggung jawabnya sebagai panglima yang harus membela negara.
(e) Tanggung jawab terhadap tuhan
                Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tangung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab langsung terhadap tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukuman – hukuman tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama. Pelanggaran dari hukuman – hukuman tersebut akan segera diperingatkan oleh tuhan dan jika dengan peringatan yang keraspun manusia masih juga tidak menghiraukan maka tuhan akan melakukan kutukan. Sebab denganmengabaikan perintah – perintah tuhan berarti mereka meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan manusia terhadap tuhan sebagai penciptanya, bahkan untuk memenuhi tanggung jawabnya, manusia perlu pengorbanan.
Contoh :
seorang biarawati dengan ikhlas tidak menikah selama hidupnya karena dituntut tanggung jawabnya terhadap tuhan sesuai dengan hukum – hukum yang ada pada agamanya. Hal ini dilakukan agar ia dapat sepenihnya mengabdikan diri kepada tuhan demi rasa tanggung jawabnya. Dalam rangka memenuhi tanggung jawab ini ia berkorban tidak memenuhi kodrat manusia pada umumnya yang seharusnya meneruskan keturunannya, yang sebetulnya juga merupakan sebagian tanggung jawabnya sebagai makhluk tuhan.

Rabu, 27 April 2011

Inti Pandangan Hidup

USAHA / PERJUANGAN
            Usaha/perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita – cita. Setiap manusia harus kerja keras untuk kelanjutan hidupnya. Sebagian hidup manusia adalah usaha/perjuangan. Perjuangan untuk hidup, dan ini sudah kodrat manusia. Tanpa usaha/perjuangan. Manusia tidak dapat hidup sempurna. Apabila manusia bercita – cita menjadi kaya, ia harus kerja keras. Apabila seseorang bercita – cita menjadi ilmuwan, ia harus rajin belajar dan tekun serta memenuhi semua ketentuan akademik.
            Kerja keras itu dapat dilakukan dengan otak/ilmu maupun dengan tenaga/jasmani, atau dengan kedua – duanya. Para ilmuan lebih banyka bekerja keras dengan otak/ilmunya dari pada dengan jasmaninya. Sebaliknya para buruh, petani lebih banyak menggunakan jasmani dari pada otaknya. Para politisi lebih banyak menggunakan kerja otak dari pada jasmani, sebaliknya para prajurit lebih banyak kerja jasmani dari pada otak.
            Kerja keras pada dasarnya menghargai dan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sebaliknya pemalas membuat manusia itu miskin, melarat, dan berarti menjatuhkan harkat dan martabatnya sendiri. Karena itu tidak boleh bermalas – malas, bersantai – santai dalam hidup ini. Santai dan istirahat ada waktunya dan manusia mengatur waktunya itu.
            Dalam agamapun diperintahkan untuk kerja keras. Sebagaimana hadist yang diucapkan Nabi beasr Muhammad S.A.W. yang ditujukan kepada para pengikutnya. “bekerjalah kamu  seakan – akan kamu hidup selama – lamanya, dan beribadahlah kamu seakan – akan  kamu akan mati besok.” Allah berfirman dalam Al-Quran surat Ar-Ra’du ayat 11 : “sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika meraka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”. dari hadist dan firman ini dapat dinyatakan bahwa manusia perlu kerja keras untuk memperbaiki nasibnya sendiri.
            Untuk bekerja keras manusia dibatasi oleh kemampuan. Karena kemampuan terbatas itulah timbul perbedaan tingkat kemakmuran antara manusia satu dengan manusia lainnya. Kemampuan itu terbatas pada fisik dan keahlian/keterampilan. Orang bekerja dengan fisik lemah memperoleh hasil sedikit, keterampilan akan memperoleh penghasilan lebih banyak jika dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai keterampilan/keahlian. Karena itu mencari ilmu dan keahlian/keterampilan itu suatu keharusan. Sebagaimana dinyatakan dalam ungkapan sastra: “tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat” dalam pendidikan dikatakan sebagai “long life education”.
            Karena manusia itu mempunyai rasa kebersamaan dan belas kasihan (cinta kasih) antara sesama manusia, maka ketidak mampuan atau kemampuan terbatas yang menimbuklkan perbedaan tingkat kemakmuran itu dapat diatasi bersama –sama secara tolong menolong, bergotong royong. Apabila sistem ini diangkat ke tingkat organisasi negara, maka negara akan mengatur usaha / perjuangan warga negaranya sedemikian rupa, sehingga perbedaan tingkat kemakmuran antar sesama warga negara dapat dihilangkan atau tidak terlalu mencolok. Keadaan ini dapat dikaji melalui pandangan hidup / ideologi ang dianut suatu negara.
            Dalam negara yang menganut ideologi liberalisme, kesadaran individu yang lebih berperan untuk membantu individu lain yang kurang/tidak mampu bekerja keras memperoleh penghasilan layak. Jika individu tidak punya kesadaran atau rendah tingkat kesadaranya untuk membantu yang lain yang kurang /tidak mampu, maka akn muncul perjuangan bebas dan persaingan bebas. Manusia yang satu mengeksploitir manusia lain. Misalnya dalam hubungan kerja, majikan memperkerjakan buruhnya dengan upah murah tak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkannya, upah tidak mencukupi kebuithan minimal si buruh.
            Sebaliknya, dalam negara yang menganut ideologi komunis, ngara yang lebih berperan mengatur usaha/perjuangan warga negara. Setiap warga negara harus tunduk dan patuh pada ketentuan yang ditetapkan negara, bahkan dengan paksaan dan kekerasan. Asas kebersamaan, pemerataan, sama rata sama rasa diterapkan dengan ketat. Akibatnya justru melanggar keadilan, melanggar hak – hak asasi manusia itu sendiri. Walaupun tujuan ideologi komunis itu adalah kemakmuran warga negara, caranya mewujudkan kemakmuran itu tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia. Manusia tidak lebih dari alat menciptakan kemakmuran. Padahal manusia itu makhluk ciptaan Tuhan yang punya harkat dan martabat.
KEYAKINAN / KEPERCAYAAN
            Keyakinan / kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau kekuasaan Tuhan. Menurut Prof.Dr.Harun Nasutionm ada tiga aliran filsafat, yaitu aliran naturalisme, aliran intelektualisme, dan aliran gabungan.
Aliran naturalisme
            Hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari natus, dan itu dari Tuhan. Tetapi bagi yang tidak percaya pada Tuhan, natur itulah yang tertinggi. Tuhan menciptakan alam semesta lengkap dengan hukum – hukumnya, secara mutlak dikuasai Tuhan. Manusia hanya dapat berusaha / berencana tetapi Tuhan yang menentukan.
            Aliran naturalisme berintikan spekulasi, mungkin ada Tuhan mungkin juga tidak ada Tuhan. Lalu mana yang benar? Yang benar adalah keyakinan. Jika kita yakin  Tuhan itu ada, maka kita katakan Tuhan ada. Bagi yang tidak yakin, dikatakan Tuhan tidak ada yang ada hanya natur.
            Bagi yang percaya Tuhan, Tuhan itulah kekuasaan tertinggi. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Karena itu manusia mengabdi kepada Tuhan berdasarkan ajaran – ajaran Tuhan yaotu agama. Ajaran agama itu ada dua macam yaitu:
1. ajaran agama dogmatis, yang disampaikan oleh Tuhan melaui nabi – nabi. Ajaran agama yang dogmatis bersifat mutlak, terdapat dalam kitab suci Al-Quran dan hadist. Sifatnya tetap, tidak berubah – ubah.
2. ajaran agama dari pemuka – pemuka agama, yaitu sebagai hasil pemikiran manusia, sifatnya relatif. Ajaran agama pemuka – pemuka agama termasuk kebudayaan, terdapat dalam buku – buku agama yang ditulis oleh pemuka – pemuka agama. Sifatnya dapat berubah – ubah sesuai dengan perkembangan jaman.
            Apabila aliran naturalisme ini dihubungkan denagn pandangan hidup, maka keyakinan manusia itu bermula dari Tuhan. Jadi, pendangan hidpu dilandasi oleh ajran – ajaran Tuhan melalui agamanya. Manusia yakin bahwa kebajikan itu diridhoi oleh Tuhan. Pandangan hidup yang dilandasi keyakinan bahwa tuhanlah kekuasaan tertinggi, yang menentukan segala – galanya disebut pandangan hidup religiut.
            Sebaliknya, apabila manusia tidak mengakui adanya tahuna, natur adalah kekuatan tertinggi, maka keyakinan itu bermula dari kaekuatan natur. Pandangan hidupnya dilandasi oleh kekuatan natur. Manusia yakni bahwa kebajikan adalah kebajikan natur. Pandngan hidup yang dilandasi oleh kekuatan natur sifatnya atheisme. Ini disebut pandangan hidup komunis.
Aliran intelektualisme
Daras aliran ini adalah logika / akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal manusia berpikir. Mana yang benar menurut akal itulah yang baik, walaupun bertentangan dengan kekuatan hati nurani. Manusia yakin bahwa dengan kekuatan pikir kebajikan itu dapat dicapai dengan sukses. Dengan akal diciptakan teknologi. Teknologi adalah alat bantu mencapai kebajikan maksimal, walaupun mungkin teknologi memberi akibat yang bertentangan dengan hati nurani.
            Akal berasal dari bahasa arab, artinya kalbu, yang berpusat dihati,sehingga timbula istilah hati nurani, artinya daya rasa. Dibarat hati nurani ini menipis, justru yang menonjol adalah akal yaitu logika berpikir. Karena itu aliran ini banyak dianut di kalangan barat. Di timur orang yang mengutamakn hati nurani, yang baik menurut akal belum tentu baik menurut hati nurani.
            Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka keyakinan itu bermula dari akal. Jadi pandangan hidup ini dilandasi oleh keyakinan kebenaran yang diterima akal. Benar menurut akal itulah yang baik. Manusia yakin bahwa kebajikan hanya dapat diperooleh dengan akal. Pandangan hidup ini disebut liberalisme. Kebebasan akan menimbulkan kebebasan bertingkah laku dan berbuat, walaupun tingkah laku dan perbuatan itu bertentangan dengan hati nurani. Kebebasan akal lebih ditekanakn pada setiap individu yang berakal dapat menguasai individu yang berpikir rendah.
Aliran gabungan
            Dasar aliran ini ialah kekuatan gaib dan juga akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal dari tuhan, percaya tuhan sebagai dasar keyakinan. Sedangkan akal adalah dasar kebudayaan, yang menentukan benar tidaknya sesuatu. Segala sesuatu dinilai dengan akal, baik sebagai logika berpikir maupun sebagai rasa. Jadi, apa yang  benar menurut logika berpikir juga dapat diterima oleh hati nurani.
            Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka akan timbul dura kemungkinan oandangan hidup. Apabila keyakinan labih berat didasarkan apada logika berpikir, sedangkan hati nurani dinomor duakan , kekuatan gaib dari tuhan diakui adanya tetapi tidak menentukan , dan logika berpikir tidak ditekankan pada logika berpikir individu. Melainkan logika berpikir kolektif, pandangan hidup ini disebut sosialisme.
            Apabila dasar keyakinan itu kekuatan gaib dari tuhan dan akal, kedua – duanya mendasari keyakinan secara setimbang, akal dalam arti baik sebagai logika berpikir maupun sebagai daya rasa, logika berpikir baik secara individual maupun secara kolektif  pandangan hidup ini disebut sosialisme – religius. Kebajikan yang dikehendaki adalah kebajikan menurut logika berpikir dan dapat diterima oleh hati nurani, semuanya itu berkat karunia tuhan.
            Apabila kita kaji maka antara dua pandangan hidup ini terdapat perbedaan pokok. Pandangan hidup sosialisme menekankan pada logika berpikir kolektif, sedangkan pandangan hidup sosialisme religius menekankan pada logika berpikir kolektif individual. Pandangan hidup sosialisme mengutamakan logika berpikis dari pada hati nurani, sedangkan sosialisme tidak begitu menghiraukan kekuasan tuhan, sebaliknya sosialisme religius kekuasaan tuhan begitu menentukan.
LANGKAH – LANGKAH BERPANDANGAN HIDUP YANG BAIK.
            Manusia pasti mempunyai hidup walau bagai manapun bentuknya. Bagaimna kita memperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada orang yang bersangkutan. Ada yang memperlakukan pandangan hidup itu sebagai sarana mencapai tujuan dan ada pula yang memperlakukan sebagai penimbul kesejahteraan, ketentraman, dan sebagainya.
            Akan tetapi yang terpenting, kita seharusnya mempunyai langkah – langkah berpandangan hidup ini. Karena hanya dengan mempunyai langkah – langkah itulah kita dapat memperlakukan pandangan hidup sebagai sarana mencapai tujuan dan cita – cita denan baik. Adapun langkah – langkah itu sebagai berikut :
1. mengenal
            Mengenal merupakan suatu kodrat bagi manusia yaitu merupakan tahap pertama dari setiap aktivitas hidupnya yang dalam hal ini mengenal apa itu pandangan hidup. Tentunya kita yakin dan sadar bahwa setiap manusia itu pasti mempunyai pandangan hdup, maka kita dapat memastikan bahwa pandangan hidup itu ada sejak manusia itu ada, dan bahkan hidup itu ada sebelum manusia itu belum turun kedunia. Adam dan hawalah dalam hal ini yang merupakan manusia pertama, Dan berarti pula mereka mempunyai pandangan hidup yang digunakan sebagai pedoman dan yang memberi petunjuk kepada mereka.
            Sedangkan kita sebagai makhluk yang bernegara dan atau beragama pasti mempunyai pandanan hidup juga dalam beragama, khususnya islam, kita mempunyai pandangan hidup yaitu Al-Quran, hadist dan ijmak ulama, yang merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisah – pisahkan satu sama lainnya.
2. mengerti
            Tahap kedua untuk berpandangan hidup yang baik adalah mengerti. Mengerti disini dimaksudkan mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri. Bila dalam bernegara kia berpandangan pancasila, maka dalam berpandangan gidup pada pancasila kita hendaknya mengaerti apa pancasila dan bagai mana mengetur kehidupan bernegara, bagitu juga bagai yang berpandangan hidup pada agama islam. Hendaknya kita mengerti apa itu Al-Quran, hadist dan ijimak itu dan bagaimana ketiganya itu mengatur kehidupan baik didunia maupun di akhirat. Selain itu juga kita mengerti untuk apa dan dari mana Al-Quran, hadist dan ijimak itu. Sehingga demikian mempunyai sauatu konsep penegertian tentang pandangan hidup dalam agama islam.
            Mengarti terhadap pandangan hidup disini memegang peranan penting. Karena degnan mengerti, ada kecenderungan mengikuti apa yang terdapat dalam pandangan hidup itu.
3. menghayati
            Langkah selanjutanya setelah mengerti pandangan hidup adalah menghayati pandangan hidup itu. Dengan menghayati setelah mengerti pandangan hidup kita memperoleh gambaran yang tepat dan benar mengenai kebenaran pandangan hidup itu sendiri.
            Menghayati disini dapat diibaratkan menghayati nilai – nilai yang terkandung didalamnya. Yaitu dangan memperluas dan memperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup itu sendiri. Langkah – langkah yang dapat ditempuh dalam rangka menghayati ini, menganalisa hal –hal yang berhubungan dengan pandangan hidup, bertanya kepada orang yang dianggap labih tahu dan lebih berpengalaman menganai isi pandangan hidup itu atau mengenai pandangan hidup itu sendiri. Jadi dengan menghayai pandangan hidup kita akan memperoleh mengenai kebenaran tentang pandangan hidup itu sendiri.
            Yang perlu diingat dalam langkah mengerti dan menghayati pandangan hidup itu, yaitu harus ada : sikap penerimaan terhadap pandangan hidup itu sendiri. Dalam sikap penerimaan pandangan hidup ini ada dua alternatif  yaitu penerimaan secara ikhals dan penerimaan secara tidak ikhlas.
            Dengan kata lain langkah mengenai mengerti dan menghayati ini ada sikap penerimaan dan hal lain merupaan langkah yang menentukan terhadap langkah selanjutanya. Bila dalam mengerti dan menghayati ini ada penerimaan secara ikhlas, maka langkah selanjutanya akan maperkuat keyakinannya. Akan tetapi bila sebaliknya langkah selanjutnya tidak berguna.
4. meyakini
            Setelah mengatahui kebenaran dan validitas , baik secara kemanusiaan, maupun ditinjau dari segi kemasyarakatan maupun negara dan dari kehidupan diakhirata, maka hendakanya kita meyakini pandangan hidup yang telah kita hayati itu. Meyakini ini merupaka suatu hal untuk cenderung memperoleh suat kepastian sehingga dapat mancapai suatu tujuan hidupnya.
            Dengan meyakini berarti secara langsung ada penerimaan yang ikhlas terhadap pandangan hidup itu. Adanya sikap menerima secara ikhlas ini kama ada kecenderungan untuk selalu berpedoman kepadnya dalam segala tingkah laku dan tindak tanduknya selalu dipengaruhi oleh pandangan hidup yang diyakininya. Dalam meyakini ini penting juga adanya iman yang teguh. Sebab dengan iman yang teguh ini dia tak akan terpengaruh oleh pengaruh dari luar dirinya yang menyebabkan dirinya tersugesti.
            Contoh bahwa keyakinan itu penting dalam tingkah laku. Kita sebagai umat yang beragama islam yakin bahwa Alla itu mempunai sifat maha dari segalanya yang diantaranya adalah maha mengetahui. Sifat maha mengetahui ini membuat orang yang meyakininya selalu berbuat baik. Dalam hal ini adalah keyakinan yang sebenar – benarnya. Akan tetepi dalam kasus tertentu ada pula orang yang walaupun meyakini, tetapi karena imanya tipis maka terpaksa melanggar ketentuannya.
5. mengabdi
            Pengabdian merupakan sesuatu hal yang penting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya lebih – lebih oleh orang lain. Dengan mengabdi maka kita akan merasakan manfaatnya. Sedangkan perwujudan manfaat mengabdi ini dapat dirasakan oleh pribadi kita sendiri. Dan manfaat itu sendiri bisa terwujud dimasa masih hidup dan atau seseudah meninggal yaitu di alam akherat.
            Dampak berpandangan hidup islam yang antara lain yaitu mengabdi kepada orang tua. Dalam mengabdi kepada orang tua bila didasari oleh pandangan hidup islam maka akan cenderung untuk seslalu disertai dengan ketaatan dam mengikuti segala perintahnya. Setidak – tidaknya kita menyadari bahwa kita sudah selayaknya mengabdi kepada mereka. Karena kita dahulu yaitu dari bayi sampai dapat berdiri sendiri toh diasuhnya dan juga kita dididik kepada hal yang baik.
            Oleh karena itu seharusnya mengabdi kepada orang tua kita dengan perwujudannya yang berupa perbuatan yang menyenangkan hatinya, baik secar langsung ataupun tidak langsung. Artinya apapun yang menjadi hambatan dan tantangan  kita untuk tidak mengabdi kepadanya harus selalu ditumbangkan.
            Jadi jika kita sudah mengenal, mengerti, menghayati, dan meyakini pandangan hidup ini, maka selayaknya disertau dengan pengabdian. Dan pengabdian ini hendaknya dijadikan pakaian, baik dalam waktu tentram laebih – lebih bila menghadapi hambatan, tantangan dan sebagainya.
Mengamankan
            Mungkin sedah merupakan sifat manusia bahwa bila sudah mengabdikan diri pada suatu pandangan hidup lalu ada orang lain yang menggangu dan atau menyalahkan nya tentu dia tidak menerima dan bahkan cenderung mengadakan perlawanan. Hal ini karena kemungkinan merasakan bahwa dalam berpandangan hidup itu dia telah mengikuti langkah – langkah sebelum langkah – langkah yang ditempuhnya itu telah dibuktikan kebenarannya sehingga akibatnya ada orang lain yang mengganggunya maka dia pasti akan mengadakan suatu respon entah itu berwujud tindakan atau lainnya.
            Proses mengamankan ini merupakan langkah yang terakhir. Tidak mungkin atau sedikit kemungkinan bila belum mendalami langkah sebelumnya lalu akan ada proses mengamankan ini. Langkah yang terakhir ini merupakan langkah yang terberat dan benar – benar membutuhkan iman yang teguh dan kebenaran dalam menanggulangi segala sesuatu demi tegaknya pandangan hidup itu.
            Misalnya seorang yang beragama islam dan berpegang teguh kepada pandangan hidupnya, lalu suatu ketika dia dicela baik secara langsung ataupun tidak langsung. Maka jelas dia tidak menerima celaan itu. Bahkan bila ada orang yang ingin merusak atau bahkan ingin memusnahkan agama islam baik terang – terangan ataupun secara diam – diam, sudah tentu dan sudah selayaknya kita mengadakan tindakan terhadap sesuatu yang menjadi pengganggu.

Sabtu, 23 April 2011

Manusia dan Pandangan Hidup

PENGERTIAN PANDANGAN HIDUP
            Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati. Karena itu ia menentukan masa depan sekarang. Untuk itu perlu dijelaskan pula apa arti pandangan hidup. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.
            Dengan demikian pandangan hidup itu bukanlah timbul seketika atau dalam waktu singkat saja. Melainkan proses waktu yang lama dan terus menerus, sehingga hasil pemikiran itu dapat diuji kenyataanya. Hasil pemikiran itu dapat diterima oleh akal, sehingga diakui kebenarannya. Atas dasar ini manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk yang disebut pandangan hidup.
            Pandangan hidup banyak sekali macamnya dan ragamnya. Akan tetapi pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :
(A) Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya
(B) Pandangan hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut.
(C) Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.
            Apabila pandangan hidup itu diterima oleh sekelompok orang sebagai pendukung suatu organisasi, maka pandangn hidup itu disebut ideologi. Jika organisasi itu organisasi politik, ideoliginya disebut ideologi politik. Jika organisasi itu negara, ideologinya disebut ideologi negara.
            Pandangan hidup pada dasarnya mempunyai unsur – unsur yaitu cita – cita, kebijakan, usaha, keyakinan/kepercayaan. Keempat unsur ini merupakan satu rangkaian kesatuan yang tidak terpisahkan. Cita – cita ialah apa yang diinginkan yang mungkin dapat dicapai dengan usaha atau perjuangan. Tujuan yang hendak disapai ialah kebajikan, yaitu segala hal yang baik yang membuat manusia makmur, bahagia, damai, tentram. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan/kepercayaan. Keyakinan/kepercayaan diukur dengan kemampuan  akal, kemampuan jasmani, dan kepercayaan kepada Tuhan.
CITA – CITA
            Menurut kamus umum bahasa indonesia, yang disebut cita – cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Baik keinginan, harapan, maupun tujuan merupakan apa yang mau diperoleh seseorang pada masa mendatang. Dengan demikian cita – cita merupakan pandangan masa depan, merupakan pandangan hidup yang akan datang. Pada umumnya cita – cita merupakan semacam garis linier yang makinlama makin tinggi, dengan perkataan lain: cita – cita merupakan keinginan, harapan, dan tujuan manusia yang makin tinggi tingkatannya.
            Apabila cita – cita itu tidak mungkin atau belum mungkin terpenuhi, maka cita – cita itu disebut angan – angan. Disini persyaratan dan kemampuan tidak / belum terpenuhi sehingga usaha untuk mewujudkan cita 0 cita itu tidak mungkin dilakukan. Misalnya seorang anak bercita – cita ingin menjadi dokter, ia belum sekolah, tidak mungkin berpikir baik, sehingga tidak punya kemampuan berusaha mencapai cita – cita. Itu baru dalam taraf angan – angan.
            Antara masa sekarang yang merupakan realita dengan masa yang akan datang sebagai ide atau cita – cita terdapat jarak waktu. Dapatkah seseorang mencapai apa yang dicita – citakan, hal itu tergantung dari tiga faktor. Pertama, manusianya yaitu yang memiliki cita – cita. Kedua, kondisi yang dihadapi selama mencapai apa yang dicita – citakan. Dan ketiga, seberapa tiggikah cita – cita yang hendak dicapai.
            Faktor manusia yang mau mencapai cita – cita ditentukan oleh kualitas manusianya. Ada orang yang tidak berkemauan, sehingga apa yang dicita – citakan hanya merupakan khayalan saja. Hal demikian banyak menimpa anak – anak muda yang memang senang berkhayal, tatapi sulit mencapai apa yang dicita – citakan karena kurang mengukur dengan kemampuannya sendiri. Sebaliknya dengan anak yang dengan kemampuan keras ingin mencapai apa yang dicita – citakan, cita – cita merupakan motivasi atau dorongan dalam menempuh hidup untuk mencapainya. Cara keras dalam mencapai cita – cita merupakan suatu perjuangan hidup yang bila berhasil akan menjadikan dirinya puas.
            Faktor kondisi yang mempengaruhi terca[ainya cita – cita, pada umumnya dapat disebut yang menguntungkan dan yang menghambat. Faktor yang menguntungkan merupakan kondisi yang memperlancar tercapainya suatu cita – cita, sedangkan faktor yang menghambat merupakan kondisi yang ,erintangi tercapainya suatu cita – cita. Misalnya berikut :
            Amir dan budi adalah dua anak pandai dalam satu kelas, keduanya bercita – cita ingin menjadi sarjana.amir anak orang yang cukup kaya, sehingga dalam mencapai cita – citanya tidak mengalami kesulitan. Malahan dapat dikatakan bahwa kondisi ekonomi orang tuanya merupakan faktor yang menguntungkan atau memudahkannya mencapai coia – cita si amir. Sebaliknya dengan si budi yang orang tuanya ekonominya lemah, menyebabkan ia tidak mampu mencapai cita – citanya. Ekonomi orang tua budi yang lemah merupakan hambatan bagi budi dalam mencapai cita – citanya.
            Faktor tingginya cita – cita yang merupakan faktor ketiga dalam mencapai cita – cita. Memang ada anjuran agar seseorang menggantungkan cita – citanya setinggi bintang di langit. Tetapi bagai mana faktor manusianya?. Mampukah ang bersangkutan mencapainya. Demikian juga faktor kondisinya memungkinkan hal itu. Apakah dapat merupakan pendorng atau penghalang cita – cita. Sementara itu ada lagi anjuran, agar seseorang menenpatkan cita – citanya yang sepadan atau sesuai dengan kemampuannya. Pepatah mengatakan “bayang – bayang setinggi badan.”, artinya mencapai cita – cita sesuai dengan dirinya. Anjuran yang terakhir ini menyebabkan seseorang secara bertahap mencapai apa yang di idam – idamkan. Pada umumnya dilakkan dengan penuh perhitungan sesuai dengan kemampuannya yang dimiliki saat itu serta kondisi yang dilaluinya.
            Pada mulanya basir adalah seorang pedagang kecil, pedagang kaki lima. Ia menyadari bawa dengan modal yang kecil maka dengan susah payah diperolehnya keuntungan yang berarti. Karena itu dengan hematnya disisihkan uang keuntungannya untuk memperbesar modal yang lebih besar ia dapat menjadi pedagang menengah. Dan dengan ketekunannya lagi dilalnjutkan kegiatannya dalam dagang. Dengan kejujuran serta kesuhgguhannya dapatlah ia memperbesar usahanya melalui kredit yang dipercayakan bank kepadanya. Dengan pengalamansebagai bekal, kesungguhan serta kepercayaan yang dapat diberikan kepada relasinya. Basir berhasil menjadi pedagang besar. Cita – citanya berangsur dari pedagang kecil kepedagang menengah, dan akhirnya tercapai menjadi pedagang besar.
Suatu cita – cita tidak hanya dimiliki oelh individu, masyarakat dan bangsapunmemiliki cita – cita juga. Cita – cita suatu bangsa merupakan keinginan atau tujuan suatu bangsa. Misalnya bangsa indonesia mendirikan suatu negara yang merupakan sarana untuk menjadi sauatu bangsa yang masyarakatnya memiliki keadilan dan kemakmuran .
KEBAJIKAN
            Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma – norma agama dan etika.
            Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, makhluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik.
            Manusia adalah seseorang pribadi yang utuh terdiri atas jiwa dan badan. Kedua unsur itu terpisah bila manusia meninggal. Karena merupakan pribadi, manusia mempunyai pendapat sendiri, ia mencintai diri sendiri, prasaan sendiri, cita – cita sendiri dan sebagainya. Justru karena itu, karena mementingkan diri sendiri, seringkali manusia tidak mengenal kebajikan.
            Manusia merupakan makhluk sosial. Manusia hidup bermasyarakat, manusia saling membutuhkan, saling menolong, saling menghargai sesama anggota masyarakat. Sebaliknya pula saling mencurigai, saling membenci, saling merugikan, dan sebagainya.
            Manusia sebagai makhluk Tuhan, diciptakan Tuhan dan dapat berkembang karena Tuhan. Untuk itu manusia dilengkapi kemampuan jasmani dan rohani juga fasilitas alam sekitarnya seperti tanah, air, tumbuhan dan sebagainya.
            Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari tige segi, yaitu manusia sebagai makhluk pribadi, manusia sebagai anggota masyarakat, dan manusia sebagai makhluk Tuhan.
            Sebagai makhluk pribadi, manuisa dapat menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk. Baik buruk itu ditentukan oleh suara hati. Suara hati adalah semacam bisikan di dalam hati yang mendesak seseorang, untuk menimbang dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan, tindakan atau tingkah laku. Jadi suara hati dapat merupakan hakim untuk diri sendiri. Sebab itu , nilai suara hati amat beasr dan penting dalam  hidup manusia. Misalnya orang tahu, bahwa membunuh itu buruk, jahat. Suara hati mengatakan demikian, namun manusia kadang – kadang tak mendengarkan suara hatinya.
            Suara hati selalu memilih yang baik, sebab itu ia selalu mendesak orang untuk barbuat yang baik bagi dirinya. Oleh karena itu, kalau seseorang berbuat sesuatu sesuai dengan bisikan suara hatinya, maka tindakan atau perbuatannya pasti baik. Jadi berbuat atau bertundak menurut suara hati, maka tindakan atau perbuatan itu adalahn baik. Sebaliknya perbuatan atau tindakan berlawanan dengan suara hati kita, maka perbuatan  atau tindakan itu buruk. Misalnya, suara hati kita mengatakan “tolonglah orang yang menderita itu”, dan kita berbuat menolongnya, maka kita berbuat kebajikan. Sebaliknya, apabila hati kita berkata demikian, namun kita hanya seolah – olah tak mendengarkan suara hatu, maka munafiklah kita.
            Karena merupakan anggota masyarakat, maka seesorang juga terikat dengan suara masyarakat. Setiap masyarakat adalah kumpulan pribadi – pribadi, sehingga setiap suara masyarakat pada hakekatnya adalah kumpulan suara hatu pribadi – pribadi dalam masyarakat itu. Sebagaimana suara hati tiap pribadi itu pasti selalu menginginkan yang baik, maka masyarakat yang terdiri atas pribadi – pribadi itupun pasti suara hatinya juga menginginkan yang baik untuk kehidupan masyarakat. Sebab itu jika benar – benar berdasarkan pada suara hati anggota – anggotanya, suara hati masyarakat pada dasarnya adalah baik. Misalnya, watga disuatu daerah menghendaki kerja bakti dengan mengadakanpembersihan saluran air dikampung. Bila kita ikut beramai – ramai kerja bakti, berarti kita mengikuti suara hati masyarakat, kerja bakti itu. Tetapi bila kita tidak mengikutnya berarti kita tidak mau mengikuti suara hati masyarakat.
            Sesuat yang baik bagi masyarakat, berarti baik bagi kepentingan masyarakat. Teepi sapat saja terjadi, bahwa sesuatu yang baik bagi kepentingan umum/masyarakat tidak baik bagi salah seorang atau segelintir orang didalmnya atau sebaliknya. Dengan demikian, seseorang harus tunduk kepada apa yang baik bagi masyarakat umum.
Contoh : budi tidak setuju jalan didepan rumahnya diperlebar, karena harus memotong bagian depan rumahnya. Tetapi ,asyarakat kampung mengusulkan dan telah sidetujui jalan itu harus diperlebar demi keamanan. Akhirnya karena desakan selurh warga, dengan sangat terpaksa budi menyetujuinya.
            Jadi baik atau buruk itu dilihat menurut suara hati sendiri. Meskipun demikian harus dinilai dan diukur menurut suara atau pendapat umum. Disini tidak berarti bahwa pendapat umum atau kepentingan umum itu diatas segala – galanya, sehingga suara hati, pendapat atau kepentingan pribadi – pribadi diperkosa begitu saja.
            Sebagai makhluk tuhan, manusiapun harus mendengarkan suara hati Tuhan. Suara Tuhan selalu membisikan agar manusia berbuat baik dan mengelakkan perbuatan yang tidak baik. Jadi, untuk mengukur perbuatan baik buruk, harus kita debgar pula suara Tuhan atau kehendak Thuan. Kehendak Tuhan berbentuk hukum Tuhan atau hukum agama.
            Jadi kebajikan itu adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suar masyarakat dan hukum Tuhan. Kebajikan berarti berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya.
            Baik-buruk, kebajikan dan ketidakbijakan menimbulkan daya kreatifitas bagi seniman. Banyak hasil seni lahir dari imajinasi kebajikan dan ketidakbajikan.
            Namun ada pula kebajikan semu, yaitu kejahatan yang berselubung kebajikan. Kebajikan semu ini sangat berbahaya, karena pelakunya orang – orang munafik, yang bermaksud mencari keuntungan diri sendiri.
Kebajikan manusia nyata dan dapat dirasakan dalam tingkah lakunya. Karena tingkah laku bersumber pada pandangan hidup, maka setiap orang memiliki tingkah lakunya sendiri – sendiri, sehingga tingkah laku setiap orang berbeda – beda.
            Faktor – faktor yang menentukan tingkah laku setiap orang ada tiga hal. Pertama faktor pembawaan ( heriditas) yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan. Pembawaan merupakan hal yang diturunkan atau dipusakai oleh orang tua. Tetapi mengapa mereka yang saudara sekandung tidak memiliki pembawaan yang sama?. Hal itu disebabkan, karena sel – sel benih yang mengandung faktor – faktor penentu (determinan) berjumlah sangat banyak. Pada saat konsepsi saling berkombinasi dengan cara bermacam – macam sehingga menghasilkan anak yang bermacam macam juga (prinsip variasi dalam keturunan). Namun mereka yang bersaudara memperlihatkan kecondongan kearah rata – rata, yaitu sifat rata rata yang dimiliki oleh mereka yang saudara sekandung ( prinsip regresi filial). Pada masa kosepsi atau pembuahan itulah terjadi pembentukan temperamen seseorang.
            Faktor kedua yang menentukan tingkah laku sseorang adalah lingkungan (environment). Lingkungan yang membentuk seseorang merupakan alam kedua yang terjadinya setelah seorang anak lahir ( masa pembentukan seorang waktu masih dalam kandungan merupakan alam pertama). Lingkungan membentuk jiwa seseorang meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam lingkungan keluarga orang tua maupun anak – anak yang lebih tua merupakan panutan seseorang, sehingga bila yang dianut sebagai teladan berbuat yang baik – baik, maka si anak yang tengah membentuk diri pribadinya akan baik juga. Dalam lingkungan sekolah yang menjadi panutan utama adalah guru, sementara itu teman – teman sekolah ikut serta memberikan andilnya. Dalam lingkungan sekolah tokoh panutan seorang anak sudah memilikiposisi yang lebih luas dibandingkan dengan dalam keluarga. Pembentukan pribadi dalam sekolah terjadi pada masa anak – anak atau masa sekolah. Lingkungan ketiga adalah masyarakat, yang menjadi panutan baig seseorang adalah tokoh masyarakat dengan masa setelah anak – anak menjadi dewasa atau duduk di perguruan tinggi. Selain tokoh – tokoh dalam rumah tangga, sekolah dan masyarakatyang merupakan person, kepribadian seorang anak juga memperoleh pengaruh dari benda – benda atau peralatan dalam lingkungan tersebut yang merupakan non person. Karena itu dalam pembentukan kepribadian pada umumnya anak – anak kota lebih terampil dibandingkan dengan anak pedesaan, namun dalam hubungan bermasyarakat lebih – lebih yang berjenjang anak – anak dari daerah pedesaan lebih unggul.
            Faktor ketiga yang menentukan tingkah laku seseorang adalah pengalaman yang khas yang pernah diperoleh. Baik pengalaman pahit yang sifatnya negatif, maupun pengalaman yang manis yang sifatnya positif, memberikan pada manusia suatu bekal yang selalu dipergunakan sebagai pertimbangan sebelum seseorang mengambil tindakan. Mungkin sekali bahwa berdasarkan hati nurani seseorang mau menolong orang dalam kesusahan, tetapi karena pernah memperoleh pengalaman pahit waktu mau menolong seseorng sebelumnya, maka niat baik itu tertahanm sehingga diurungkan untuk membantu. Belajar hidup dari pengalaman inilh yang merupakan pembentukan budaya dalam diri seseorang.
            Dalam prakterknya, dari ketiga faktor diatas, yaitu hereditas, lingkungan, dan pengalaman. Manakah yang paling dominan ? sulit diberikan jawaban, karena ketiga – tiganya terjalin erat sekali. Disamping itu ketiga faktor tersebut dalam membentuk pribadi seseorang berbeda kekuatannya dengan pembentukan pada pribadi lain.

Selasa, 19 April 2011

Kecurangan, Pemulihan nama baik, dan pembalasan


KECURANGAN
            Kecurangan atau curang identik dengan ketidak jujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa benar. Sudah tentu kecurangan sebagai lawan jujur.
            Curang atau kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Atau, orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga atau usaha. Sudah tentu keuntungan itu diperoleh dengan tidak wajar. Yang dimaksud dengan keuntungan disini adalah keuntungan yang berupa materi. Mereka yang berbuat curang menganggap akan mendatangkan kesenangan atau keenakan, meskipun orang lain menderita karenanya.
            Kecurangan menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya dan senang bila ada yang melebihi kekayaannya. Padahal agama apapun tidak membenarkan orang mengumpulkan harta sebanyak – banyaknya tanpa menghiraukan orang lain, lebih lagi mengumpulkan harta dengan jalan curang. Hal semacam itu dalam istilah agama tidak diridhoi Tuhan.
            Bermacam – macam sebab orang melakukan kecurangan. Ditinjau dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya, ada empat aspek yaitu aspek ekonomi, aspek kebudayaan, aspek peradaban, dan aspek teknik. Apabila keempat aspek tersebut dilaksanakan secara wajar, maka segalanya akan berjalan sesuai dengan norma – norma moral atau norma hukum. Akan tetapi, apabila manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa tamak, iri, dengki, maka manusia akan melakukan perbuatan yang melanggar norma tersebut dan jadilah kecurangan, tentang baik dan buruk Pujowiyanto dalam bukunya “filsafat sana – sini” menjelaskan bahwa perbuatan yang sejenis dengan perbutatan curang, misalnya membohong, menipu, merampas, memalsu dan lain – lain adalah bersifat buruk. Lawan buruk sudah tentu baik. Baik buruk itu berhubungan dengan kelakuan manusia. Pada diri manusia seakan – akan ada perlawanan antara baik dan buruk. Baik merupakan tingkah laku, karena itu diperlukan ukuran untuk menilainya. Namun sukarlah untuk mengajukan ukuran pernilaian mengenai hal ytang penting ini. Dalam hidup kita mempunyao semacam kesadaran dan tahulah kita bahwa ada baik dan ada lawannya, pada tingkah laku tertentu juga agak mudah menunjuk mana yang baik, kalau tidak baik tentu buruk.
            Dalam pewayangan soal baik dan buruk ini juga diajukan tidak secara teori, juga tidak ditunjuk jelas apakah yang menjadi ukuran baik. Namun terang sekali ajaran perwayangan secara konkrit, ksatria yang dianggap sebagai wakil kebaikan, kalau berperang melawan raksasa sebagai wakil kebalikan baik itu, tentu tidak selalu segera, tetapi kemenangan terakhir tentulah pada kebaikan.
            Malah ada beberapa sarjana yang mengatakan bahwa perwayangan itu hanya menggambarkan peperangan antara yang baik dan buruk. Mungkin ini secara barat banyak benarnya. Kami katakan secara barat, karena orang barat suka kepada yang abstrak, berlaku umum. Tetapi kalau dari alam perwayangan itu sendiri, kami rasa kurang cocok, karena disini serba konkrit dan serba tertentu dan kalau hendak mencari yang umum dan konkrit itu, diserahkan saja kepada penonton wayang. Biasanya inipun tidak terlalu perlu, karena tingkah laku yang sebenarnya toh konkrit pula.
            Dalam tingkah laku yang konkrit itu ternyata masih sulit untuk membedakan mana tingkah laku yang baik dan mana lagi yang sebaliknya. Mungkin saja dicarikan alasan – alasan yang menerangkan bahwa yang buruk itu baik juga, tetapi akhirnya toh akan nyata buruknya juga. Dalam bahasa jawa ada ungkapan “Becik ketitik, ala ketara” artinya yang baik akan nampak, yang buruk juga akan nyata. Siapa yang baik, dan siapa yang buruk tingkah lakunya.
            Pertunjukan wayang dalam cerita – certianya sudah tua sekali dan pada waktu itu masih jaman feodal. Yang dianggap baik ialah raja. Raja tidak dapat keliru, serba benar dan serba baik.
            Dalam perwayangan, yang baik ialah raja perwayangan, tidak semua raja, melainkan raja tanah jawa, itulah yang sebenarnya raja. Semua peristiwa salam perwayangan terjadi di tanah jawa atau sehubungan dengan tanah jawa. Ini tentu saja tidak perlu tanah jawa geografik sekarang ini, tetapi tanah jawa perwayangan.
            Kalau demikian yang melawan tanah jawa itu yang hendak merusak dan menjajah, mau memfitnah, semuanya yang melawan raja itu berarti melawan yang baik dan dengan demikian buruklah ia sehingga akhirnya tentu kalah juga.
            Dalam perwayangan, terutama wayang purwa, lakon – lakon diangkat dari siklus Pandawa , sebab raja – rajanya itu menurut kepercayaan mereka juga keturunan wisnu. Dalam lakon – lakon itu, pandawa juga selalu baik, serba jujur, tulus, kuasa tapi sederhana, suka memberi pertolongan juga kepada dewa kalau ada kesulitan.
            Sebaliknya, kurawa merupakan penjelmaan burk, tidak jujur, tidak tahu apa – apa, tidak dapat berperang, kalau berperang selalu kalah. Rajanya waktu hendak kawin saja harus ditolong oleh Harjuna.
            Penasehatnya, Pandita Drona, itupun bukan pendeta yang jujur, bukan ahli tapa, tetapi iri hati, congkak. Hanya pembicaraannya yang muluk – muluk, tetapi sebetulnya tak berarti sehingga ia bukanlah pendeta yang sebenarya karena tidak mencari kebenaran.
             Yang diutarakan diatas  itu tidak semuanya sesuai dengan cerita dalam sumber cerita itu. Penjelasanya itu hanya bertujuan menerangkan adanya perlawanan baik dan buruk, dan perlawanan ini total, lebih dari bumi – langit atau terang dan gelap, melainkan baik lawan tidak baik, buruk.
            Dalam cerita – cerita itu selalu secara konkrit diperlihatkan bahwa orang yang buruk selalu terkalahkan oleh yang baik ( akan tetapi adakah mengenati kebaikan dan keburukan pada umumnya sehingga suatu tindakan yang sesuai dengan ukuran itu dapat dikatakan baik da nyang tidak sesuai adalah buruk) kalau ukuran itu umum, maka kebaikan dan sebaliknya juga umum dan abstrak.
            Dalam perwayangan pertunjukan ini serba konkret. Masalahnya bagaimana silih berganti baik dan buruk.
            Dalam siklus rama, secara konkret terang sekali rama berlawanan dengan rahwana. Rahwana merupakan penjelmaan buruk. Tindakan rahwana itu bagi kebanyakan orang jelas tidak baik, karena mencuri istri rama.
            Peperangan antara rama dan rahwana ketika kerajaan rahwana diserbu oleh rama, menyebabkan banyak pahlawan negara alengka (kerajaan rahwana) gugur, baik anak rahawna maupun saudaranya. Masih ada dua saudara gagah dan sakti, yaitu wibisana dan kumbakarna. Wibisana yakin bahwa tindakan kakaknya (rahwana) itu tidak baik. Pada waktu ia diminta kakanya untuk berperang melawan rama, ia tidak mau, malahan ia menasehati kakaknya supaya segera tunduk kepada rama, penjelmaan wisnu itu, serta mengembalikan istrinya. Rahwana marah sekali dan mengusir wibisana. Wibisana pergi, dan pergilah ia ke rama menganut keyakinannya bahwa perang itu perang yang tidak baik. Baginya membela negara tak mungkin karena itu tidak baik pula, sebab rajanya tidak baik. Ia yakin bahwa rama penjelmaan wisnu, penyelenggara alam serta dunia. Patutlah kalau wibisana mengabdi pama sebab ia tertarik oelh yang baik, ia harus mengikuti kebaikan.
Kumbakarna adalah seorang panglima, ahli perang dan amat jujur. Ia tahu bahwa kakanya kepala negara yang tidak baik sifatnya, baik sebagai kepala negara maupun sebagai manusia. Iapun dipanggil raja serta diperintah, untuk melawan rama yang menyerbu negaranya. Kumbakarna tahu akan perintah itu, dan ia tahu ia akan kalah, akan tetapi ia lebih dulu mengatakan bahwa tingkah laku kakanya itu tidak baik. Jalan yang paling  jujur ubtuk menyelamatkan negara ialah mengembalikan istri rama kepada yang berhak.
Rahwana amat marah dan mengungkit – ungkit kemuliaan dan keagungan yang telah diberikan kepada kumbakarna, karena itu ia wajib melakukan segala peringtahnya. Kumbakarna mengembalikan segala kemuliaan dan keagungan itu, sebab ia tidak mengabdi untuk kemuliaan, dalam wayang diceritakan, bahwa kumbakarna memuntahkan segala makanan yang telah diterimanya di hadapan rajanya.
Namun kumbakarna berangkat juga kemedan perang bukan membela kakaknya tetapi membela negara sebagai warisan dari nenk moyangnya, dan gugurlah ia. Dalam pewayangan sikap kedua satria itu sangat terhormat, walaupun berlawanan, yang seorang mengitkuti musuh yang seorang gugur dalam medan perang. Tetapi kedua – duanya mempunyai alasan pribadi, kumbakarna beralasan, bahwa perang untuk memenuhi kewajiban sebagai panglima, benar tidaknya urusan itu bukan urusan dia, melainkan urusan panglima tertinggi yaitu raja.
Wibisana berkeyakinan bahwa orang harus mengikuti wisnu karena wisnu itu penyelamat dunia dan barang siapa merongrong keselamatan dunia ia akan musnah dari dunia, walaupun itu saudara sendiri.
Alasan kumbakarna lebih masuk akal. Ia berangkat ke medan perang untuk memenuhi kewajibannya sebagai panglima, apakah akibatnya, ia akan gugur, itu bukan pertanyaan baginya. Waktu ia dengan laskarnya melewati perbatasan negaranya untuk menghadapi nusuh, dewa – dewa menghormati dia dengan menghujankan wangi – wangian.
Waktu wibisana melintas perbatasan untuk mengabdi diri kepada rama, penjelmaan wisnu, melakukan dan mengikuti kebenaran denga tidak memperdulikan kata orang dan kemarahan kakaknya yang jga rajanya, dewa – dewa mengangakan mulutnya kagum atas itikad baik pahlawan itu.

PEMULIHAN NAMA BAIK
            Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati – hati agar namanya tetap baik. Lebih – lebih jika ia menjadi tauladan bagi orang / tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya.
            Ada peribahasa berbunyi “daripada berputih tulang” artinya orang lebih baik mati dari pada malu. Betapa besar nilai nama baik itu sehingga nyawa menjadi taruhannya. Setiap orang tua selalu berpesan kepada anak – anaknya “jagalah nama keluargamu!” dengan menyebut “nama” berarti sudahmengandung arti “nama baik” . ada pula pesan orang tua “jangan membuat malu” pesan itu juga berarti menjaga nama baik. Orang tua yang menghadapi anaknya yang sudah dewasa sering kali berpesan “laksanakan apa yang kamu anggap baik, dan jangan kau laksanakan apa yang kau anggap tidak baik!”. Dengan melaksanakan apa yang dianggap baik berarti pula menjaga nama baik dirinya sendiri, yang berarti menjaga nama baik keluarga.
            Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan nama baik atau tidak baik itu adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan – perbuatan yang dihalalkan agama dan lain sebagainya.
            Tingkah laku atas perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakekatnya sesuai dengan kodrat manusia, yaitu :
a)      Manusia menurut sifat dasarnya adalah makhluk moral.
b)      Ada aturan – aturan yang berdiri sendiri yang harus dipatuhi manusia untuk mewujudkan dirinya sendiri sebagai pelaku moral tersebut.
Pada hakekatnya, pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya, bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan akhlak.
Akhlak berasal dari bahasa arab akhlaq bentuk jamak dai khuluq dan dari kata ahlaq yang berarti penciptaan. Oleh karena itu, tingkah laku dan perbuatan manusia harus disesuaikan dengan penciptanya sebagai manusia. Untuk itu, orang harus bertingkah lau dan berbuat sesuai dengan akhlak yang baik.
Ada tiga macam godaan yaitu derajat/pangkat, harta dan wanita. Bila orang tidak dapat menguasai nafsunya, maka ia akan terjerumus ke jurang kenistaan karena untuk memiliki derajat/pangkat, harta dan wanita itu dengan mempergunakan jalan yang tidak wajar. Jalan itu antara lain, fitnah, membohong, suap, mencuri, merampok, dan menempuh semua jalan yang diharamkan.
Hawa nafsu dan angan – angan bagaikan sungai dan air. Hawa nafsu yang tidak tersalurkan melalui sungai yang baik, yang benar, akan meluap kemana – mana yang akhirnya sangat berbahaya. Menjerumuskan manusia kelumpur dosa.
Ada godaan halus, yang dalam bahasa jawa, adiganf, adigung, adiguna, yaitu membanggakan kekuasaan, kebesarannya dan kepandaiannya. Semua itu mengandung arti kesombongan.
Untuk memulihkan nama baik, manusia harus tobat atau minta maaf. Tobat dan minta maaf tidak hanya dibibir, melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah, berbuat budi darma dengan memberikan kebajikan dan pertolongan kepada sesama makhluk hidup yang perlu ditolongkan dengan penuh kasih sayang tanpa pamrih takwa kepada Tuhan dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu dipupuk.

PEMBALASAN
            Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang.
            Sebagai contoh, fahrie memberikan makanan kepada paring. Dilain kesempatan paring membereikan minuman kepada fahrie. Perbuatan tersebut merupakan perbuatan serupa, dan ini merupakan pembalasan.
Dalam Al-Quran terdapat ayat – ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengadakan pembalasan. Bagi yang bertakwa kepada tuhan diberikan pembalasan dan bagi yang mengingkai perintah Tuhanpun diberikan pembalasan dan pembalasan yang diberikanpun pembalasan yang seimbang, yaitu siksaan di neraka.
Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat. Sebaliknya, pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula.
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk moral dan makhluk sosial. Dalam bergaul, manusia harus mematuhi norma – norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya.. perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar atau memperkosa hak dan kewajiban manusia lain.
Oleh karena tiap manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau diperkosa, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.
Jadi Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran”. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: "Kita tidak hidup di dunia yang adil". Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya
Jika fungsi keadilan tidak dikendalikan oleh negara, maka kemungkinan yang akan terjadi itu apa? bukan kemungkinan lagi, sudah terjadi sekarang, dimana orang benar masuk penjara, orang salah melenggang berpidato berdasi berbicara seperti tidak punya salah. liat anggota DPR itu minta dana aspirasi rumah aspirasi, sedangkan orang demo aja tidak diperhatikan apakah mungkin orang datang kerumah aspirasi didengarkan?bohong!liat tidak seorang bapak yang mau ketemu presiden dengan berjalan kaki dari jawa timur apakah di tanggapi?dimana keadilan?anaknya ditabrak polisi, mati. tapi polisi yang menabraknya melenggang bebas. sudah tidak ada keadilan. mulailah memikirkan revolusi